Laman psikoread

Jumat, 01 Oktober 2010

DAMPAK PERILAKU SEKS BEBAS BAGI KESEHATAN REMAJA !!

Sudah menjadi maklum, remaja memang sosok yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Kenapa?. Remaja masa pencarian jati diri yang mendorongnya mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, ingin tampil menonjol, dan diakui eksistensinya. Namun disisi lain remaja mengalami ketidakstabilan emosi sehingga mudah dipengaruhi teman dan mengutamakan solidaritas kelompok. Diusia remaja, akibat pengaruh hormonal, juga mengalami perubahan fisik yang cepat dan mendadak. Perubahan ini ditunjukkan dari perkembangan organ seksual menuju kesempurnaan fungsi serta tumbuhnya organ genetalia sekunder. Hal ini menjadikan remaja sangat dekat dengan permasalahan seputar seksual. Namun terbatasnya bekal yang dimiliki menjadikan remaja memang masih memerlukan perhatian dan pengarahan.
         Ketidakpekaan orang tua dan pendidik terhadap kondisi remaja menyebabkan remaja sering terjatuh pada kegiatan tuna sosial. Ditambah lagi keengganan dan kecanggungan remaja untuk bertanya pada orang yang tepat semakin menguatkan alasan kenapa remaja sering bersikap tidak tepat terhadap organ reproduksinya. Data menunjukkan dari remaja usia 12-18 tahun, 16% mendapat informasi seputar seks dari teman, 35% dari film porno, dan hanya 5% dari orang tua.


Potret Remaja di Usianya
Remaja dalam perkembangannya memerlukan lingkungan adaptip yang menciptakan kondisi yang nyaman untuk bertanya dan membentuk karakter bertanggung jawab terhadap dirinya. Ada kesan pada remaja, seks itu menyenangkan, puncak rasa kecintaan, yang serba membahagiakan sehingga tidak perlu ditakutkan. Berkembang pula opini seks adalah sesuatu yang menarik dan perlu dicoba (sexpectation).Terlebih lagi ketika remaja tumbuh dalam lingkungan mal-adaptif, akan mendorong terciptanya perilaku amoral yang merusak masa depan remaja. Dampak pergaulan bebas mengantarkan pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas, tindak kriminal termasuk aborsi, narkoba, serta berkembangnya penyakit menular seksual (PMS).
Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi. Sebagai catatan, kejadian aborsi di Indonesia cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “ Dan 20 persen di antaranya remaja,” kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini.
          Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan dari pelajar SMP, 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual. Dari aspek medis, menurut Dr. Budi Martino L., SPOG, seks bebas memiliki banyak konsekwensi misalnya, penyakit menular seksual,(PMS), selain juga infeksi, infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS).
          Di Denpasar sendiri, menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, per November 2007, 441 wanita dari 4.041 orang dengan HIV/AIDS. Dari 441 wanita penderita HIV/AIDS ini terdiri dari pemakai narkoba suntik 33 orang, 120 pekerja seksual, 228 orang dari keluarga baik. Karena keadaan wanita penderita HIV/AIDS mengalami penurunan sistem kekebelan tubuh menyebabkan 20 kasus HIV/AIDS menyerang anak dan bayi yang dilahirkannya.
Tindakan remaja yang seringkali tanpa kendali menyebabkan bertambah panjangnya problem sosial yang dialaminya. Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50 % diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90 % terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.

Dampak Seks Bebas terhadap Kesehatan Fisik dan Psikologis Remaja
         Pengetahuan remaja mengenai dampak seks bebas masih sangat rendah. Yang paling menonjol dari kegiatan seks bebas ini adalah meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia dimana 20 persennya dilakukan remaja. Di Amerika, 1 dari 2 pernikahan berujung pada perceraian, 1 dari 2 anak hasil perzinahan, 75 % gadis mengandung di luar nikah, setiap hari terjadi 1,5 juta hubungan seks dengan pelacuran. Di Inggris 3 dari 4 anak hasil perzinahan, 1 dari 3 kehamilan berakhir dengan aborsi, dan sejak tahun 1996 penyakit syphillis meningkat hingga 486%. Di Perancis, penyakit gonorhoe meningkat 170% dalam jangka waktu satu tahun. Di negara liberal, pelacuran, homoseksual/ lesbian, incest, orgy, bistiability, merupakan hal yang lumrah bahkan menjadi industri yang menghasilkan keuntungan ratusan juta US dolar dan disyahkan oleh undang-undang.
Lebih dari 200 wanita mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran (aborsi) bayi secara tidak aman. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang membahayakan terhadap keselamatan jiwa ibu. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak profesional (unsafe abortion).
Secara fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara langsung berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi, sepsis sampai kematian. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan sampai terjadinya infertilitas.
Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat.

Bagaiamana Remaja Bersikap?
          Hubungan seks di luar pernikahan menunjukkan tidak adanya rasa tanggung jawab dan memunculkan rentetan persoalan baru yang menyebabkan gangguan fisik dan psikososial manusia. Bahaya tindakan aborsi, menyebarnya penyakit menular seksual, rusaknya institusi pernikahan, serta ketidakjelasan garis keturunan. Kehidupan keluarga yang diwarnai nilai sekuleristik dan kebebasan hanya akan merusak tatanan keluarga dan melahirkan generasi yang terjauh dari sendi-sendi agama.

Sebagaimana apa yang diperingatkan Alloh dalam surat An-Nur: 21:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barang siapa yang mengikuti langkah syetan, maka sesungguhnya dia (syetan) menyuruh perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Alloh dan Rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun diantara kamu bersih dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Alloh membersihkan siapa yang dikehendaki... (An-nuur (24):21)
         Aktifitas seksual pada dasarnya adalah bagian dari naluri yang pemenuhannya sangat dipengaruhi stimulus dari luar tubuh manusia dan alam berfikirnya. Meminimalkan hal-hal yang merangsang, mengekang ledakan nafsu dan menguasainya. Masa remaja memang sangat memperhatikan masalah seksual. Banyak remaja yang menyukai bacaan porno, melihat film-film porno. Semakin bertambah jika mereka berhadapan dengan rangsangan seks seperti suara, pembicaran, tulisan, foto, sentuhan, dan lainnya. Hal ini akan mendorong remaja terjebak dengan kegiatan seks yang haram.
Perawatan organ reproduksi tidak identik dengan pemanfaatan tanpa kendali. Sistem organ reproduksi dalam pertumbuhannya sebagaimana organ lainnya, memerlukan masa tertentu yang berkesinambungan sehingga mencapai petumbuhan maksimal. Disinilah letak pentingnya pendampingan orang tua dan pendidik untuk memberi pemahaman yang benar tentang pertumbuhan organ reproduksi. Pemahaman remaja berkaitan dengan organ reproduksinya tentunya ditanamkan sesuai dengan kadar kemampuan logika dan umur mereka. Dengan demikian remaja tidak akan cemas ketika menghadapi peristiwa haid pertama, melewati masa premenstrual syndrome dengan aman, memahami hukum fiqh terkait dengan haid serta peristiwa lain yang mengiringi masa pubertas remaja.
Remaja juga harus bisa menjaga diri (isti’faaf). Hal ini mampu dilakukan pada remaja yang mempunyai kejelasan konsep hidup dalam menjalani hidupnya. Orang tua sejak usia dini harus menanamkan dasar yang kuat pada diri anak bahwa Alloh menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Jika konsep hidup yang benar telah tertanam maka remaja akan memahami jati dirinya, menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya, mengerti hubungan dirinya dengan lingkungaanya. Kualitas akhlak akan terus terpupuk dengan memahami batas-batas nilai, komitmen dengan tanggung jawab bersama dalam masyarakat. Remaja akan merasa damai di rumah yang terbangun dari keterbukaan, cinta kasih, saling memahami di antara sesama keluarga. Pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan pendidik akan menghindarkan dari pergaulan bebas, komitmen terhadap aturan Allah baik dalam aurot (pakaian), pergaulan antar lawan jenis, menghindari ikhtilath dan sebagainya. Bagaimana dengan anda? Walloohu a’lam bisshowab....

EMOSI (Kesedihan Berpisah dengan Kekasih) ^prikitiw..^

1.1 Latar belakang
Emosi merupakan salah satu gejala kejiwaan yang dimiliki oleh semua orang, walaupun demikian bukan berarti bahwa manusia segala-galanya dikuasai oleh emosi karena emosi bukan merupakan gejala yang dominan bagi manusia. Gejala kejiwaan ini sangat dipengaruhi oleh stimulus yang datang, serta keadaan individu itu sendiri di antaranya :
  • Keadaan jasmani individu yang bersangkutan. Pada umumnya orang yang dalam keadaan sakit lebih mudah merasa emosi daripada orang yang sehat.
  • Watak dasar individu sendiri. Hal ini erat hubungannya dengan struktur kepribadian individu yang ikut menentukan mudah tidaknya seseorang mengalami emosi. Misalnya ada orang yang mudaj marah, sebaliknya ada juga orang yang tidak mudah marah.
  • Suasana hati yang sedang dialami oleh individu tersebut. Misalnya orang yang sedang kalut pikirannya akan mudah sekali emosi bila dibandingkan individu yang normal. Emosi yang dialami seseorang akan berpengaruh pula pada gejala kejasmaniannya misalnya adanya perubahan pada roman muka, yang kemudian disertai gerakan-gerakan anggota badan, serta gejala-gejala tubuh yang lain yang tidak diamati secara langsung, seperti denyut jantung yang bertambah kencang, peredaran darah yang semakin cepat, dan sebagainya. Dalam artikel ini kami akan membahas salah satu gejala emosi yang dialami oleh seorang pemuda ketika berpisah dengan kekasihnya beserta tanggapan-tanggapan tubuh yang timbul akibat adanya emosi tersebut.
2.1 Konsep Dasar Emosi
Meskipun definisi mengenai emosi cukup bervariasi yang dikemukakan oleh para ahli psikologi dari berbagai orientasi. Meskipun demikian menurut Chaplin dapat dikemukakan atas general agreement bahwa emosi merupakan reaksi yang kompleks yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat. Jadi ketika seseorang itu mengalami emosi maka ia akan sulit untuk dapat menguasai dirinya sehingga perilakunya tidak lagi memperhatikan norma yang ada dan mengakibatkan hubungan dengan sekitarnya menjadi terganggu.

Tipe-tipe emosi tak terhitung banyaknya misalnya:
kegembiraan, kesedihan, keriangan, cinta, benci, marah, takut, cemas, kesemuanya barulah sebagian kecil dan masing-masing dapat dialami dalam taraf yang berbeda-beda, sejak dari yang ringan hingga yang ekstrem. Mereka dapat dikategorikan sebagai yang positif (misalnya: kesenangan, keriangan, cinta) dan yang negatif (misalnya: benci, marah, takut) 

2.2 Emosi dan gejala-gejala kejasmaniannya
Pada penjelasan sebelumnya diterangkan bahwa pada umumnya setiap seseorang mengalami emosi maka akan menimbulkan perubahan-perubahan kejasmanian yang tampak secara langsung bisa diamati oleh orang lain sehingga dapat diketahui emosi apakah yang sedang dialami individu tersebut.

Salah satu bentuk emosi dan gejala-gejala kejasmanian yang kami akan kami contohkan yaitu emosi kesedihan seorang pemuda yang berpisah dengan kekasihnya setelah selesai pengumuman kelulusan. Ketika itu Gadis kekasihnya mengajak pemuda itu ke tempat yang sepi berdua dan menuliskan pesan di baju belakangnya, gadis itu menyuruhnya membaca pesan itu ketika sampai di rumah dan harus membacanya sendiri. Sesampai di rumah pemuda itupun membaca tulisan yang isinya bahwa mungkin ketika ia membacanya kekasihnya sudah ada di bandara karena ayah gadis itu menginginkannya untuk melanjutkan kuliah di Singapura. Lelaki itu seakan berontak dan seperti tak ingin membiarkan kekasihnya pergi. Perasaannya telah menguasai seluruh akal pikirannya, tanpa berpikir panjang lelaki itu memacu motornya dengan kencang menuju bandara, ia tidak peduli akan keselamatannya sendiri. Di bandara ia berlari dan beberapa kali berteriak memanggil nama kekasihnya, dia tak peduli orang-orang yang melihatnya dan mengatakannya gila, ketika tetap tak menemukan kekasihnya kemudian ia hanya bisa pasrah, lemas seperti tak kuasa mengangkat tubuhnya, tertunduk lemas di sebuah bangku.
Dari sebuah contoh di atas jelaslah bahwa adanya hubungan yang erat antara emosi dengan gejala-gejala kejasmanian. Individu yang mengalami kesedihan karena berpisah dengan kekasihnya menunjukkan perbuatan-perbuatan yang menampak akibat emosi yang dialaminya seperti berlari dan berteriak-teriak memanggil nama kekasihnya, tubuhnya menjadi lemas dan tidak mempunyai semangat lagi untuk menjalani hidup, segalanya seakan berakhir mengiringi perpisahan dengan kekasihnya.
Gerakan-gerakan tubuh yang menampak itu merupakan hasil ungkapan dari emosi yang dialaminya sebagai akibat adanya dorongan affek yaitu kondisi ketegangan yang abnormal, timbul dengan tiba-tiba dalam waktu singkat, tidak disadari dan disertai dengan gejala-gejala jasmaniah yang hebat. Jadi pada saat itu pemuda tadi sedang mengalami emosi yang kuat yaitu yang disebut affek sehingga pemuda tersebut tidak mengenal atau tidak menyadari lagi terhadap sesuatu yang diperbuatnya.
Disamping terjadinya perubahan-perubahan jasmani yang menampak, individu yang mengalami emosi juga mengalami perubahan-perubahan yang tidak dapat diamati secara langsung oleh mata akan tetapi bisa diukur dengan alat tertentu ataupun melalui diagnosis. Gejala-gejala yang dialami akibat emosi dan tidak nampak secara langsung oleh mata yaitu adanya perubahan denyut jantung dan nadi yang semakin kencang, aliran darah yang semakin cepat, pembentukan hormon adrenalin yang semakin meningkat, pengurangan air liur, serta pengeluaran kelenjar endokrin.

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa emosi termasuk gejala jiwa yang dimiliki semua orang, hanya corak dan tingkatannya tidak sama. Stimulus yang sama memungkinkan dapat menimbulkan tingkatan emosi yang berbeda pada setiap individu yang mengalaminya.
Orang yang sedang mengalami emosi dapat kita ketahui dengan memperhatikan perubahan-perubahan fisik yang ditimbulkan akibat emosinya misalnya: memperhatikan kerut keningnya, gerakan-gerakan tubuh seperti berteriak-teriak, melompat-lompat, dan sebagainya. Sedangkan perubahan fisiologis tidak dapat kita amati secara langsung namun bisa diukur dengan alat kedokteran atau melalui diagnosis misalnya: perubahan detak jantung, perubahan aliran darah, serta perubahan penghasilan hormon-hormon tubuh seperti adrenalin dan kelenjar endokrin.



DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu Drs. H. Psikologi Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992.
Heyes, Malcolm Hardy Steve. Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga, 1985.
Kartono, Kartini Dr. Psikologi Umum. Bandung: Mandar Maju, 1996.
Walgito, Bimo Prof. Dr. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta:

Pengantar Psikologi Umum

Psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno yang terdiri dari dua kata yaitu: (psyche = jiwa dan logos = kata). Jadi secara harfiah psikologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Namun demikan psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang masih abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya(behavior), sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia.

Sebelum Wundt mendeklarasikan laboratoriumnya tahun 1879 – yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu – pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani kuno. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika.
Sejarah Psikologi ini dibagi ke dalam beberapa periode dengan berbagai tokohnya.

Psikologi sebagai bagian dari filsafat
• Masa Yunani
• Masa Abad Pertengahan
• Masa Renaisanse

Psikologi sebagai bagian dari ilmu faal
• Masa Pasca Renaisans

Psikologi sebagai ilmu yang mandiri
• Masa akhir abad ke-19

Memasuki abad ke-20, psikologi berkembang dalam berbagai school of thought. Kalau Wundt meletakkan dasar bagi psikologi dengan pandangan strukturalisme, maka selanjutnya berbagai aliran utama yang muncul adalah sebagai berikut.
• Fungsionalisme
• Behaviorisme
• Psikoanalisa
• Psikologi Gestalt
• Psikologi Humanistik

Sumber kepustakaan dalam semua tulisan ini adalah:
Brennan, J.F. (1991). History and Systems of Psychology. New Jersey : Prentice Hall Inc. 
Lundin, (1991). Theories and Systems of Psychology. 4 rd Ed. Toronto: D.C. Heath and Company.
Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta

Homoseksual

A. Pengertian 
Homoseksualitas merupakan salah satu penyimpangan perkembangan psikoseksual. Secara sederhana homoseksual dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang kuat akan daya tarik erotis seseorang justru terhadap jenis kelamin yang sama. Istilah homoseksualitas lebih lazim digunakan bagi pria yang menderita penyimpangan ini, sedang bagi wanita, keadaan yang sama disebut “lesbian”.
Pada umumnya, cinta homoseksual wanita (lesbianisme) itu sangat mendalam, dan lebih hebat daripada cinta heteroseksual, sungguhpun pada relasi lesbian tersebut sering tidak diperoleh kepuasan seksual yang wajar. Cinta lesbian tadi biasanya juga lebih hebat-ganas daripada cinta homoseksual di antara kaum pria.
Homoseksualitas sudah terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Reaksi berbagai bengsa diberbagai kurun waktu sejarah terhadap homoseksualitas ternyata berlainan. Banyak masyarakat memandang heteroseksualitas sebagai perilaku seksual yang wajar, sedangkan homoseksualitas secara tradisional dipandang sebagai gangguan mental.

B. Jenis-jenis Homoseksual
Coleman, Butcher dan Carson (1980) menggolongakan homoseksualitas ke dalam beberapa jenis:
  1. Homoseksual tulen. Jenis ini memenuhi gambaran stereotipik populer tentang lelaki yang keperemuan-perempuanan, atau sebaliknya perempuan yang kelaki-lakian. Sering juga kaum tranvestit atau “TV”, yakni orang yang suka mengenakan pakaian dan perilaku seperti lawan jenisnya. Bagi penderita yang memiliki kecenderungan homoseksual ini, daya tarik lawan jenis sama sekali tidak membuatnya terangsang, bahkan ia sama sekali tidak mempunyai minat seksual terhadap lawan jenisnya. Dalam kasus semacam ini, penderita akan impotensi / figriditas apabila ia memaksakan diri untuk mengadakan relasi seksual dengan lawan jenisnya.
  2. Homoseksual malu-malu, yakni kaum lelaki yang suka mendatangi wc-wc umum atau tempat-tempat mandi uap, terdorong oleh hasrat homoseksual namun tidak mampu dan tidak berani menjalin hubungan personal yang cukup intim dengan orang lain untuk mempraktikkan homoseksualitas.
  3. Homoseksual tersembunyi. Kelompok ini biasanya berasal dari kelas menengah dan memiliki status sosial yang mereka rasa perlu dilindungi dengan cara menyembunyikan homoseksulitas mereka. Homoseksualitas mereka biasanya hanya diketahui oleh sahabat-sahabat karib, kekasih mereka, atau orang lain tertentu yang jumlahnya sangat terbatas.
  4. Homoseksual situasional. Homoseksualitas jenis ini terjadi pada penderita hanya pada situasi yang mendesak dimana kemungkinan tidak mendapatkan partner lain jenis, sehingga tingkah lakunya timbul sebagai usaha menyalurkan dorongan seksualnya. Terdapat aneka jenis situasi yang dapat mendorong orang mempraktikkan homoseksualitas tanpa disertai komitmen yang mendalam, misalnya penjara dan medan perang. Akibatnya, biasanya mereka kembali mempraktikkan heteroseksualnya sesudah keluar dari situasi tersebut. Nilai tingkah laku ini dapat disamakan dengan tingkah laku onani atau masturbasi.
  5. Biseksual, yakni orang-orang ynang mempraktikkan baik homoseksualitas maupun heteroseksualitas sekaligus. Penderita homoseksualitas ini dapat mencapai kepuasan erotis optimal baik dengan sama jenis maupun dengan lawan jenis.
  6. Homoseksual mapan. Sebagian besar kaum homoseksual menerima homoseksualitas mereka, memenuhi aneka peran kemasyarakatan secara bertanggung jawab, dan mengikat diri dengan komunitas homoseksual setempat. Secara keseluruhan, kaum homoseksual tidak menunjukkan gejala gangguan kepribadian yang lebih dibandingkan kaum heteroseksual.
C. Ekspresi Homoseksual
Di sisi lain banyak psikiater yang percaya bahwa homoseksualitas dapat pula dibagi atas beberapa kategori, yaitu kategori aktif, pasif dan bergantian peranan.
  • Tipe aktif adalah tipe maskulin dimana pada relasi homoseksualitas tipe ini menunjukkan sikap aktif dan dalam sodomi, maka penetrasi penis dilakukan oleh tipe ini.
  • Tipe pasif sering lebih mengambil alih setiap pseudofeminin, dimana kemudian tipe ini justru menjadi tipe yang betul-betul menderita karena kebanyakan memiliki tubuh yang kewanita-wanitaan, walaupun tidak selalu demikian.
  • Sedangkan dalam kategori bergantian peranan, penderita kadang-kadang memerankan fungsi wanita, kadang-kadang jadi laki-laki.
D. Sebab-sebab Homoseksual
Faktor penyebab homoseksualitas bisa bermacam-macam, seperti karena kekurangan hormon lelaki selama masa pertumbuhan, karena mendapatkan pengalaman homoseksual yang menyenangkan pada masa remaja atau sesudahnya, karena memandang perilaku heteroseksual sebagai sesuatu yang aversif atau menakutkan/tidak menyenangkan, karena besar ditengah-tengah keluarga dimana ibu dominan sedangkan ayah lemah atau bahkan tidak ada.

Dalam Litelatur lain, banyak juga teori yang menjelaskan sebab-sebab homoseksualitas, antara lain ialah:
  1. Faktor herediter berupa ketidak imbangan hormon-hormon seks.
  2. Pengaruh lingkungan yang tidak baik/tidak menguntungkan bagi perkembangan kematangan seksual yang normal
  3. Seseorang selalu mencari kepuasan relasi homoseks, karena ia pernah menghayati pengalaman homoseksual yang menggairahkan pada masa remaja
  4. Atau, seorang anak laki-laki pernah mengalami pengalaman traumatis dengan ibunya, sehingga timbul kebencian/antipati terhadap ibunya dan semua wanita. Lalu muncul dorongan seks yang jadi menetap.
Panik homoseksual tidak terjadi pada orang yang tertarik pada masalah homoseksualitas. Keadaaan ini biasanya terjadi pada pasien dengan dorongan homoseksual laten yang kuat yang menyangkal menjadi homoseksual, tetapi yang mempunyai pengalaman yang mengarahkan seseorang dengan jenis kelamin yang sama adalah tertarik secara seksual padanya.

Panik homoseksual dapat terjadi jika pasien adalah impotent pada hubungan heteroseksual. Kadang-kadang jarang, tindakan seksual untuk menimbulkan orgasme, seperti masturbasi atau hubungan anal, dapat mensetuskan panik. Seringkali, pencetusan terjadi saat pasien dalam keadaan terintoksikasi alkohol atau obat lainnya. Situasi yang sering terjadi adalah barak militer dan asrama mahasiswa. Panik homoseksual adalah tidak normal, dan mungkin berhubungan dengan gangguan psikiatrik yang serius, seperti skizofrenia.

F. Psikoterapi 
Bersikaplah suportif dan tenang. Berikan pasien kesempatan untuk mengungkapkan secara emosional dan mengolah apa yang telah terjadi. Dokter yang mempunyai jenis kelamin yang sama dengan pasien tidak boleh terlihat terlalu akrab untuk menghindari kemungkinan pasien berpersepsi salah menganggapnya sebagai ketertarikan seksual.
Sedangkan untuk terapi obat, untuk kecamasan berat mungkin diperlukan benzodiazepin (sebagai contohnya, alprazoma [Xanax] 0,5 sampai 1 mg peroral atau lorazepam [Ativan] 1 sampai 2 mg peroral). Jika pasien psikotik, antipsikotik mungkin diindikasikan – sebagai contohnya, thiothixene (Navane), trifluoperazine (Stelazine), fluphenazine (Prolixin), atau haloperidol (Haldol), semuanya diberikan dengan dosis 5 mg peroral untuk jangka waktu singkat. Jika mungkin, hindari memberikan medikasi melalui injeksi, yang dapat dianggap sebagai penyerangan seksual.

DAFTAR PUSTAKA

Kartono, Kartini. Dr. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: CV. Mandar Maju, 1985.

Kusuma, Widjaja. Dr. Kedaruratan Psikiatrik Dalam Praktek. jakarta: Professional Book, 1997.

Supratiknya. A. Dr. Mengenal Perilaku Abnormal. Jogjakarta: Konisius, 2003.

Psikologi Klinis

A. Pengertian 
Psikologi Klinis merupakan bentuk psikologi terapan untuk menentukan kapasitas dan karakteristik tingkah laku individu dengan menggunakan metode-metode pengukuran assessment, analisa dan observasi serta uji fisik dan riwayat sosial agar dapat diperoleh saran dan rekomendasi untuk membantu penyesuaian diri individu secara tepat. (American Psychological Association: 1935).

Sutardjo menyatakan bahwa psikologi klinis adalah metode yang digunakan untuk mengubah atau mengembangkan jiwa seseorang berdasarkan hasil observasi dan eksperimen dengan menggunakan teknik penanganan pedagogis. Namun, Woodworth (1937) berkeberatan dengan definisi atau pengertian psikologi klinis disampaikan Witmer ini. Menurutnya, jika pengertian psikologi klinis itu seperti yang dikemukakan Witmer, sebaiknya tidak disebut psikologi klinis melainkan sebagai psikologi untuk memberi pelayanan yang bersifat personal atau sebagai alternatif. Disamping itu Woodworth juga berpendapat bahwa psikolog klinis di masa depan harus berusaha untuk memberikan bantuan kepada individu dalam menyelesaikan masalah seleksi untuk keperluan pendidikan dan pekerjaan, penyesuaian keluarga dan sosial, kondisi-kondisi kerja, dan aspek kehidupan lainnya.

pengertian psikologi klinis saat ini adalah definisi yang ditetapkan oleh American Psychological Association (APA) yang merumuskan psikologi klinis sebagai berikut:
  • Psikologi Klinis adalah suatu wujud psikologi terapan yang bermaksud memahami kapasitas perilaku dan karakteristika individu yang dilaksanakan melalui metode pengukuran, analisis, serta pemberian saran dan rekomendasi, agar individu mampu melakukan penyesuaian diri secara patut.
B. Asesmen Psikologi Klinis
Asesmen klinis adalah proses yang digunakan psikolog klinis untuk mengamati dan mengevaluasi masalah social dan psikologis klien, baik menyangkut keterbatasan maupun kapabilitasnya.

Asesmen juga memberikan kontribusi terhadap riset klinis, antara lain dengan menyediakan landasan ilmiah untuk mengevaluasi terapi dan membangun teori-teori pemfungsian dan disfungsi manusia. Asesmen klinis sering pula diartikan sebagai psikodiagnostik, yaitu upaya untuk memahami sumber sumber penyakit melalui gejala-gejala sakit atau maladaptif dan kemudian memasukkannya ke dalam kelompok jenis gangguan yang baku atau telah dibakukan.

Terdapat banyak kemungkinan sasaran atau target yang diusahakan dalam membuat asesmen klinis. Psikolog klinis dapat memusatkan perhatian terhadap :
  • disfungsi (psikologis) individual, memperhatikan abnormalitas atau kekurangan dalam aspek pikiran, emosi, atau tindakannya. Dalam kasus-kasus lain, bisa jadi mereka memusatkan perhatian untuk menemukan.
  • kekuatan klien, dalam hal kemampuan, keterampilan, atau sensitivitas yang menjadi target evaluasi, dan melukiskan.
  • kepribadian subyek.
Beberapa metode asesmen dalam psikologi klinis diantaranya:
1. Wawancara

  • Wawancara mengenai status mental
  • Wawancara sosial-klinis
  • Wawancara yang difraksikan
  • Wawancara terstruktur
2. Tes terstruktur
Tes ini meminta subyek untuk menjawab pertanyaan secara tegas, tidak samar-samar, ya atau tidak, dan maknanya uniform, serta merespon pertanyaan dengan cara yang terbatas. Tes terstruktur membutuhkan standarisasi yang hati-hati dan norma yang representatif.

3. Tes tak terstruktur
Adalah tes yang memberikan pertanyaan kepada klien dengan cara menjawab yang memberikan keleluasaan lebih besar, misalnya Thematic Apperception Test (TAT) atau Rorschah Inkblot-tes.

4. Asesmen-asesmen perilaku
Observasi ini merupakan observasi sistematik yang dilakukan dalam laboratorium, di klinik, kelas ataupun dalam perilaku sehari-hari.

5. Kunjungan rumah
Kunjungan rumah dimaksudkan untuk memahami kahidupan alamiah klien di rumah dan keadaan serta pola kehidupan keluarga klien.

6. Catatan kehidupan
Psikolog sering tertarik untuk mempelajari riwayat hidup klien, karena riwayat itu dapat mendasari permasalahan yang dialaminya saat ini.

7. Dokumen Pribadi
Catatan atau dokumen pribadi penting untuk mengetahui motif utama klien, maupun hal-hal yang disembunyikan, penyangkalan, hambatan, dan kesulitan klien dalam membicarakan permasalahannya.

8. Pemfungsian psikofisiologis
Hubungan psikis-mental dan faal organ tubuh sangatlah erat. Tekanan darah, misalnya, sering berhubungan dengan adanya kecemasan dan juga merupakan reaksi atas tekanan-tekanan psikologis.

Intervensi Klinis
Intervensi dalam rangka psikologi dan khususnya psikologi klinis adalah membantu klien atau pasien menyelesaikan masalah psikologis, terutama sisi emosionalnya. Kendall dan Norton Ford berpendapat bahwa intervensi klinis meliputi penggunaan prinsip-prinsip psikologi untuk menolong orang menangani masalah-masalah dan mengembangkan kehidupannya yang memuaskan. Psikolog klinis menggunakan pengetahuannya mengenai pemfungsian manusia dan system-sistem sosial dalam kombinasi dengan hasil asesmen klinis guna merumuskan cara untuk membantu perubahan klien ke arah yang lebih baik.
Istilah intervensi khusus untuk psikologi adalah psikoterapi. Pada umumnya terapi menampilkan empat gambaran kegiatan, yaitu:
  1. membangun hubungan murni antara terapis dan klien.
  2. membantu klien melakukan eksplorasi diri dengan cara-cara psikologis.
  3. terapis dan klien bekerja sama memecahkan masalah psikologis klien.
  4. terapis membangun sikap dan mengajarkan ketarmpilan kepada klien.

DAFTAR PUSTAKA

Baihaqi, MIF dkk. Psikiatri(Konsep Dasar Dan Gangguan-gangguan),

Komitmen Organisasi dan Teori

A. Teori Konseptual

1. Definisi
Pengertian komitmen terhadap organisasi (organizational commitment) banyak dikemukakan oleh para ahli. Steers menjelaskan bahwa komitmen terhadap organisasi merupakan peristiwa ketertarikan individu terhadap tujuan, nilai-nilai dan sasaran organisasi. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa dalam komitmen organisasi terdapat kesamaan/kongruennya tujuan, nilai-nilai, dan sasaran antara apa yang ada dalam diri individu dengan organisasi, yang kemudian menimbulkan rasa ketertarikan individu untuk bergabung dalam organisasi.

Dalam pengertian ini, komitmen organisasi didefinisikan sebagai derajat identifikasi hubungan individu sebagai bagian dari organisasi dimana ia bekerja.
Pendapat lain dikemukakan oleh Amstrong yang menyatakan bahwa pengertian komitmen mempunyai tiga area perasaan atau perilaku terkait dengan perusahaan tempat seseorang bekerja:
  1. Kepercayaan, pada area ini seseorang melakukan penerimaan bahwa organisasi tempat bekerja atau tujuan-tujuan organisasi didalamnya merupakan sebuah nilai yang diyakini kebenarannya.
  2. Keinginan untuk bekerja atau berusaha di dalam organisasi sebagai kontrak hidupnya. Pada konteks ini orang akan memberikan waktu, kesempatan dan kegiatan pribadinya untuk bekerja di organisasi atau dikorbankan ke organisasi tanpa mengharapkan imbalan personal.
  3. Keinginan untuk bertahan dan menjadi bagian dari organisasi. 
Senada dengan Amstrong, Porter dan Smith juga mendefinisikan komitmen pada organisasi sebagai hubungan seorang individu dengan organisasi yang memungkinkan seseorang yang mempunyai komitmen yang tinggi memperlihatkan:
  1. Keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi yang bersangkutan
  2. Kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi tersebut
  3. Kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi. 
Berdasarkan kedua definisi terakhir di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen organisasi bukan hanya sekedar keinginan menjadi anggota saja, melainkan lebih dari itu orang akan berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi yang ditandai dengan bentuk loyalitas dan identifikasi diri terhadap organisasi.

2. Komponen-komponen komitmen organisasi
Komponen-komponen komitmen organisasi dapat dijelaskan melalui beberapa pnedekatan. Masing-masing pendekatan didasarkan pada asumsi yang berbeda-beda. Menurut Shepperd dan Matew terdapat empat pendekatan komitmen organisasi yaitu:
  1. Pendekatan komitmen organisasi berdasarkan sikap (attitudinal approach). Menurut pendekatan sikap, komitmen organisasi mengarah pada permasalahan keterlibatan dan loyalitas.Mowday dan Potter (dalam Ino Yuwono) menyatakan komitmen adalah identifikasi yang relatif kuat serta keterlibatan dari individu terhadap organisasi tertentu. Terdapat tiga aspek yang tercakup di dalamnya yaitu:
    a. Keinginan kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi
    b. Keyakinan kuat dan penerimaan terhadap nilai-nilai serta tujuan dari organisasi
    c. Penerimaan untuk melaksanakan usaha-usaha sesuai dengan organisasi.
  2. Sedangkan menurut Steers (dalam Ino Yuwono) komitmen organisasi adalah kekuatan relatif dari identifikasi individu untuk terlibat dalam organisasi tertentu. Komitmen organisasi ditandai oleh:
    a. Adanya keyakinan kuat dan penerimaan terhadap tujuan serta nilai-nilai organisasi
    b. Adanya keinginan untuk mengerahkan usaha bagi organisasi
    c. Adanya keinginan untuk mepertahankan keanggotaan di organisasi tersebut.
    Sementara itu menurut Kuncoro (dalam Ino Yuwono), terdapat 2 (dua) komponen dalam komitmen organisasi yaitu sikap dan kehendak untuk bertingkah laku. 
Komponen sikap meliputi:
  • Identifikasi dengan organisasi yaitu penerimaan tujuan organisasi, dimana penerimaan ini merupakan dasar komitmen organisasi. Identifikasi karyawan tampak melalui sikap menyetujui kebijaksanaan organisasi, kesamaan nilai pribadi dan nilai-nilai organisasi, rasa kebanggan menjadi bagian dari organisasi.
  • Keterlibatan sesuai peran dan tanggung jawab pekerjaan di organisasi tersebut. Karyawan yang memiliki komitmen tinggi akan menerima hampir semua tugas dan tanggung jawab pekerjaan yang diberikan padanya.
  • Kehangatan, afeksi dan loyalitas terhadap organisasi merupakan evaluasi terhadap komitmen serta adanya ikatan emosional dan keterkaitan antara organisasi dan karyawan. Karyawan dengan komitmen tinggi merasakan adanya loyalitas dan rasa memiliki terhadap organisasi.
Sedangkan yang termasuk komponen kehendak untuk bertingkah laku adalah:
  • Kesediaan untuk menampilkan usaha. Hal ini diwujudkan melalui kesediaan bekerja melebihi apa yang diharapkan agar organisasi dapat maju. Karyawan dengan komitmen tinggi, ikut memperhatikan nasib organisasi.
  • Keinginan tetap berada dalam organisasi. Pada karyawan yang memiliki komitmen tinggi, hanya sedikit alasan untuk keluar dari organisasi dan berkeinginan untuk bergabung dengan organisasi yang telah dipilihnya dalam waktu lama.
Pendekatan komitmen organisasi multi dimensi (the multidimensional approach)
Allen dan Meyer merumuskan tiga komponen yang mempengaruhi komitmen organisasi sehingga karyawan memilih tetap atau meninggalkan organisasi berdasarkan norma yang dimilikinya. Tiga komponen tersebut adalah:
  1. Affective commitment, berkaitan dengan adanya keinginan untuk terikat pada organisasi. Individu menetap dalam organisasi karena keinginannya sendiri. Kunci dari komitmen ini adalah want to.dalam tipe komitmen ini, individu merasakan adanya kesesuaian antara nilai pribadinya dan nilai-nilai organisasi.
  2. Continuance commitment, merupakan suatu komitmen yang didasarkan akan kebutuhan rasional. Dengan kata lain komitmen ini terbentuk atas dasar untung rugi, dipertimbangkan atas apa yang harus dikorbankan bila akan menetap pada organisasi. Kunci dari komitmen ini adalah kebutuhan untuk bertahan (need to). Komitmen tipe ini lebih mendasarkan keterikatannya pada cost benefit analysis.
  3. Normative commitment, adalah komitmen yang didasarkan pada norma yang ada dalam diri karyawan, berisi keyakinan individu akan tanggung jawab terhadap organisasi. Ia merasa harus bertahan karena loyalitas. Kunci dari komitmen ini adalah kewajiban untuk bertahan dalam organisasi (ought to). Tipe komitmen ini lebih dikarenakan nilai-nilai moral yang dimiliki karyawan secara pribadi.
Pendekatan komitmen organisasi normatif
Weiner menyatakan bahwa perasaan akan komitmen terhadap organisasi diawali oleh keyakinan akan identifikasi organisasi dan digeneralisasikan terhadap nilai-nilai loyalitas dan tanggung jawab.
Pendekatan komitmen organisasi berdasarkan perilaku
White menyatakan bahwa komitmen organisasi terdiri dari tiga area keyakinan ataupun perilaku yang ditampilkan oleh karyawan terhadap perusahaan dimana ia bekerja. Ketiga area itu adalah:
  1. Keyakinan dan penerimaan terhadap organisasi, tujuan dan nilai-nilai yang ada di organisasi tersebut.
  2. Adanya keinginan untuk berusaha sebaik mungkin sesuai dengan keinginan organisasi. Hal ini tercakup diantaranya menunda waktu libur untuk kepentingan organisasi dan bentuk pengorbanan yang lain tanpa mengharapkan personal gain secepatnya.
  3. Keyakinan untuk mepertahankan keanggotaannya di organisasi tersebut. 

Definisi Operasional
Komitmen organisasi adalah keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi, kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan organisasi, dan kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.